Fisika Kuantum Peluru Tembaga
Sembari menunggu pertandingan UEFA Chammpions League antara Bayer Leverkusen VS FC Barcelona saya bingun apa yang harus saya lakukan. Saya mencoba untuk membaca buku yang baru saja saya beli dari Gramedia Artha Gading berjudul “ Maniak Sepakbola” rasanya mata ini sudah tidak kuat karena sudah sangat larut ditambah lagi saya kebetulan masuk shift siang jadi untuk tiba di rumah sudah jam 00.30. Sempat memutuskan untuk supper namun lagi-lagi tidak bisa terlaksana karena saya sedang mengurangi makan berat di malam hari.
Sontak saya mengambil laptop saya untuk sekedar utak-utik dan browsing dengan ditemani musik yang saya dengar menggunakan earphone karena jika menggunakan pengeras suara bisa-bisa menggangu anggota keluarga saya yang sudah terlelap.
Seperti yang kita sudah sama-sama ketahui bahwa kejuaraan Sepakbola tertinggi di Afrika baru saja berakhir dan memunculkan juara baru, Zambia. Sayapun agak mengerutkan dahi ketika mendengan Negara tersebut yang menjadi juara. Maklum karena saya sudah kurang intens mengikuti perkembangan Sepakbola semenjak saya di mutasi ke daera Jakarta Utara. Jadi saya hanya memantau via social media bernama Twitter.
Zambia mengalahkan favorit juara yang berisikan pemain terkenal yang bermain di liga-liga Eropa, Pantai Gading dengan adu penalti. Lagi-lagi Sepakbola bukanlah matematika yang bisa ditebak secara rumustis atau segampang mengatakan untuk membedakan ini kursi dan itu meja. Zambia telah membuktikan dengan hanya berisikan pemain yang diisi oleh pemain muda bisa membuat negeri Gajah Afrika tertunduk yang berisikan pemain top macam Didier Drogba, Gervinho, Toure bersaudara, dan masih banyak lagi pemain lainnya.
Lantas apa yang bisa membuat Zambia bisa memenangi ajang tersebut? Dengan hanya bermodalkan satu pemain yang tampil di liga utama Eropa dan bahkan salah satu dari anggota mereka ada yang lahir di tahun 1993 Zambia membuat kita terapsodi bersama. Saya sendiri pun selama saya hidup dan mengikuti perkebangan Sepakbola tidak satupun pemain Zambia yang saya pernah ketahui.
Kecerdikan pelatih kelahiran Perancis, Herve Renard yang hanya tiga bulan menangani Zambia sebelum kejuaraan Piala Afrika ini dimulai menjadi salah satu faktor. Namun yang saya tangkap dari kemenangan negeri antah berantah yang prestasi tertingginya di adalah menjadi finalis Piala Afrika di 1994 ini adalah fisika kuantum.
“Kita menang akibat pertolongan dari arwah ayah-ayah kita yang berada di Gabon” cetus salah satu supporter Zambia. Ya, pada tahun 1993 pesawat timnas Zambia jatuh di Samudera Atlantik ketika keluar dari Gabon dan menewaskan hampir seluruh pemain dan staff Zambia.
“Takdir kami sudah tertulis di langit” kata Herve Renard. “Tragedi 1993 memainkan perannya” lanjut pelatih yang sekarang-sekarang ini dijuluki Special One From Afrika. Dengan keyakinan penuh, kekuatan, kepercayaan akan adanya pertolongan Tuhan dan leluhur mereka serta adanya usaha dan motivasi untuk kerja keras.
Aura-aura positif dan gelombang gamma dari keyakinan yang mereka keluarkan ditangkap oleh arwah-arwah leluhur mereka dan berhasil diwujudkan dengan membawa supremasi tertinggi di Afrika tersebut. Zambia berhasil menuntaskan kegagalan mereka di tahun 1974 dan 1994 ketika mereka berhasil menembus ke partai final namun gagal oleh Zaire (Kongo) dan Nigeria.
Penghormatan yang diberikan dari Zambia kepada Kalusha Bwalya dengan ditunjuknya sebagai ketua PSSI-nya Zambia berbuah manis. Penghargaan dibalas dengan penghargaan oleh Yang Maha Absolut.
Twitter @wisnusaputra






