Fisika Kuantum Peluru Tembaga

Sembari menunggu pertandingan UEFA Chammpions League antara Bayer Leverkusen VS FC Barcelona saya bingun apa yang harus saya lakukan. Saya mencoba untuk membaca buku yang baru saja saya beli dari Gramedia Artha Gading berjudul “ Maniak Sepakbola” rasanya mata ini sudah tidak kuat karena sudah sangat larut ditambah lagi saya kebetulan masuk shift siang jadi untuk tiba di rumah sudah jam 00.30. Sempat memutuskan untuk supper namun lagi-lagi tidak bisa terlaksana karena saya sedang mengurangi makan berat di malam hari.

Sontak saya mengambil laptop saya untuk sekedar utak-utik dan browsing dengan ditemani musik yang saya dengar menggunakan earphone karena jika menggunakan pengeras suara bisa-bisa menggangu anggota keluarga saya yang sudah terlelap.

Seperti yang kita sudah sama-sama ketahui bahwa kejuaraan Sepakbola tertinggi di Afrika baru saja berakhir dan memunculkan juara baru, Zambia. Sayapun agak mengerutkan dahi ketika mendengan Negara tersebut yang menjadi juara. Maklum karena saya sudah kurang intens mengikuti perkembangan Sepakbola semenjak saya di mutasi ke daera Jakarta Utara. Jadi saya hanya memantau via social media bernama Twitter.

Zambia mengalahkan favorit juara yang berisikan pemain terkenal yang bermain di liga-liga Eropa, Pantai Gading dengan adu penalti. Lagi-lagi Sepakbola bukanlah matematika yang bisa ditebak secara rumustis atau segampang mengatakan untuk membedakan ini kursi dan itu meja. Zambia telah membuktikan dengan hanya berisikan pemain yang diisi oleh pemain muda bisa membuat negeri Gajah Afrika tertunduk yang berisikan pemain top macam Didier Drogba, Gervinho, Toure bersaudara, dan masih banyak lagi pemain lainnya.

Lantas apa yang bisa membuat Zambia bisa memenangi ajang tersebut? Dengan hanya bermodalkan satu pemain yang tampil di liga utama Eropa dan bahkan salah satu dari anggota mereka ada yang lahir di tahun 1993 Zambia membuat kita terapsodi bersama. Saya sendiri pun selama saya hidup dan mengikuti perkebangan Sepakbola tidak satupun pemain Zambia yang saya pernah ketahui.

Kecerdikan pelatih kelahiran Perancis, Herve Renard yang hanya tiga bulan menangani Zambia sebelum kejuaraan Piala Afrika ini dimulai menjadi salah satu faktor. Namun yang saya tangkap dari kemenangan negeri antah berantah yang prestasi tertingginya di adalah menjadi finalis Piala Afrika di 1994 ini adalah fisika kuantum.

“Kita menang akibat pertolongan dari arwah ayah-ayah kita yang berada di Gabon” cetus salah satu supporter Zambia. Ya, pada tahun 1993 pesawat timnas Zambia jatuh di Samudera Atlantik ketika keluar dari Gabon dan menewaskan hampir seluruh pemain dan staff Zambia.

“Takdir kami sudah tertulis di langit” kata Herve Renard. “Tragedi 1993 memainkan perannya” lanjut pelatih yang sekarang-sekarang ini dijuluki Special One From Afrika. Dengan keyakinan penuh, kekuatan, kepercayaan akan adanya pertolongan Tuhan dan leluhur mereka serta adanya usaha dan motivasi untuk kerja keras.

Aura-aura positif dan gelombang gamma dari keyakinan yang mereka keluarkan ditangkap oleh arwah-arwah leluhur mereka dan berhasil diwujudkan dengan membawa supremasi tertinggi di Afrika tersebut. Zambia berhasil menuntaskan kegagalan mereka di tahun 1974 dan 1994 ketika mereka berhasil menembus ke partai final namun gagal oleh Zaire (Kongo) dan Nigeria.

Penghormatan yang diberikan dari Zambia kepada Kalusha Bwalya dengan ditunjuknya sebagai ketua PSSI-nya Zambia berbuah manis. Penghargaan dibalas dengan penghargaan oleh Yang Maha Absolut.

Twitter @wisnusaputra

Comments

Artha Gading, Mou, dan suporter.

artha_gading

Kabar saya bakal di pindah kerja dari Pondok Indah ke daerah Kelapa Gading tepatnya di Mall Artha Gading membuat saya terasa tertantang di satu sisi saya sebagai supervisor, tapi di sisi lain sebagai manusia yang mempunyai rasa lelah sangatlah berat.

Jarak dari Jakarta bagian barat ke bagian utara sempat menciutkan hati saya, namun apa daya, jika komandan bilang maju, ya saya harus maju. Saya mengambil mutasi pekerjaan saya tersebut.

Hari pertama di Mall Artha Gading sangatlah membuat saya berfikir. Berfikir bagaimana adaptasi dengan lingkungan kerja, berfikir bagaimana kedepannya harus berbuat apa dengan para staf saya. Tidaklah mudah untuk berbaur dengan lingkungan yang baru, perlu waktu sudah jadi barang tentu. Saya harus menjadi pil yang bisa mencair dengan air, saya tidak bisa berlaku seperti batu koral yang tidak bisa menyatu dengan air.

Kerja keras, itulah yang pertama-tama ada di benak saya untuk menyemangati diri saya. Ya, kerja keras, dimana kata tersebut masih susah diartikan oleh saya. Tapi saya harus mencari tau hakikat kerja keras sebenarnya. Saya dipilih, berarti saya dipercaya. Sebagai laki-laki yang disebut bakal jadi orang kepercayaan di keluarga inti kelak, saya akan berusaha sekeras mungkin, determinasi, berkelanjutan, fokus, dan kemauan untuk mencari uang.

Jadi membandingkan saya dengan Jose Mourinho, sosok pelatih yang sangat disegani oleh bahkan pencintanya sendiri. Menaikkan diri sendiri untuk memacu semangat, menyerah adalah haram untuk Dia. Bermulai dari klub kecil, Porto, sekarang Dia sudah menjadi pelatih Madrid, klub tersohor dunia akhirat.

mourinho1

Banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari sosok Mou, penuh determinasi di setiap klub yang Dia tangani. Dia bisa menjadi baru dalam air, dan juga menjadi pil yang yang larut di dalam air. Menciptakan suasana menyenangkan dan sayang kepada para pemain. Pernah Mou bilang ke pers bahwa salah satu pemainnya tidak bisa bertanding karena alasan cidera, namun sebenarnya pemain tersebut izin untuk merawat istrinya yang sedang sakit.

63_suporter-mrp-isi1

Saya berusaha memposisikan diri sebagai Mou, tentunya bukan dari segi kepelatihan sepakbola, namun dari segi kepemimpinan. Tantangan dan hambatan harus saya lalui dengan elegan, tenang tapi fokus akan hasil. Omong besar bukan untuk menunjukkan bahwa saya besar, tapi untuk memunculkan karakter pemimpin bagi diri saya sendiri.

Saya seorang pendukung Persija, AC Milan, dan Mancheste United, dan saya harus mendukung diri saya sendiri.

@wisnusaputra

Santri Sepakbola

Comments

Dear, Bapak Nurdin Halid

Dear Bapak Nurdin Halid yang terhormat,

Kenapa Bapak menjegal LPI yang mengakibatkan para pemain tidak bisa memperkuat Tim Nasional berlaga di Pra-Olimpiade melawan Turkmenistan ? Bukankah kita bakal punya stok pemain yang lebih banyak dan variatif ? Bukankah Alfred Riedl bisa masuk ke tim U-23 yang jelas-jelas menarik animo masyarakat kita ?

Dear Bapak Nurdin Halid yang tercinta,

Apakah Bapak tidak mengetahui melalui sepakbola Negara Jerman bisa seperti sekarang ? Apakah Bapak tidak tahu bahwa masyarakat rela bangun tengah malam untuk nonton bola dibandingkan untuk solat tahajjud ? Apakah Bapak tidak tahu bahwa kami cinta mati dengan sepakbola ?

Dear Bapak Nurdin yang mulia,

Tidakkah Bapak tertohok ketika Fathul Mulyadin meregang nyawanya demi sepakbola ? Apakah Bapak tidak merasa bersalah ? Apakah Bapak tidak tahu bahwa banyak Fathul Mulyadin – Fathul Mulyadin lainnya yang bernasib sama ? Apakah Bapak mau ada Fathul Mulyadin lainnya ? Apakah Bapak mau darah dan air mata tetap mengalir ?

Dear Bapak Nurdin yang baik,

Kita sudah muak dengan sandiwara-sandiwara dari aktor-aktor PSSI. Kami sudah pegal mendengar solusi yang tidak solutif. Kenapa George Toisutta dan Arifin Paniogoro tidak lolos dalam bursa pencalonan untuk menjadi ketua umum PSSI ? Apa salah mereka ? Apakah Bapak tidak tertegur ketika pemerintah turun tangan terhadap kisruh di tubuh PSSI ?

Dear Bapak Nurdin yang bijak,

Apakah juara dua di Piala AFF kemarin merupakan suatu keberhasilan Bapak ? Apakah Bapak tidak menengok kebelakang sudah berapa kali kita menjadi ”hampir” juara ? Kami rindu mencium Piala wahai Bapak Nurdin. Tidakkah Bapak merasa pengang ketika banyak orang mencibir Anda dengan kata-kata kasar ? Apakah Bapak tidak iritasi melihat spanduk-spanduk bertuliskan ”NURDIN TURUN” ?

dear

Dear Bapak Nurdin yang arif,

Apakah Bapak tahu tengah terjadi pergolakkan besar-besaran di Timur Tengah tentang Revolusi ? Kita jauh sebelumnya sudah menyuarakan REVOLUSI dengan REVOLUSI PSSI dibandingkan negara-negara tersebut. Kita akan tepuk tangan salut jika Bapak mendengarkan kami.

Kita tidak akan mengolok-olok Bapak lagi ketika Bapak turun, tidak akan ada lagi teriakan yang memekikkan kuping Bapak, tidak akan ada lagi yang membuat mata Bapak iritasi. Tidak akan ada lagi yang menyalahkan Bapak tentang bobroknya sepakbola kita. Bapak akan terus dikenang sebagai seseorang yang telah berjasa membuat sepakbola setenar sekarang.

Sincerely,

Me | Santri Sepakbola

Twitter : @wisnusaputra

Comments (2)

BUKAN SALAH SIAPA-SIAPA

utama_senayan3
Tidak ada habisnya jika kita menceritakan kebobrokan sepakbola Indonesia, mulai dari aturan yang seenaknya dilanggar dan bisa dikompromikan jika terjadi kesalahan, pembinaan yang masih carut marut, perkelahian antar supporter, kepemimpinan wasit yang memimpin pertandingan, masuknya politik ke sepakbola yang jelas-jelas dilarang oleh FIFA, dan masih banyak lagi kebobrokan yang tidak ada habisnya terjadi di sepakbola negeri kita tecinta ini.

Sebetulnya masalah apa yang terjadi sekarang ? Sehingga untuk berbicara di level asia tenggara saja kita masih jadi tim ”hampir juara”. Jangan bandingkan dengan Brazil ataupun Inggris, mungkin bisa dibilang bagai punuk yang merindukan bulan. Lihatlah Malaysia, negara yang jumlah penduduknya cuma sepersekian dari jumlah penduduk di Indonesia. Tapi negara tersebut sudah maju lewat sistem pembinaan yang dilakukan oleh pemerintah sana dan tentunya di jalani secara fokus dan serius. Meskipun dana miliaran yang diberikan dari perusahaan rokok di sana sempat distop karena tidak boleh masuk ke dunia olahraga yang justru menjadi nyawa untuk bergulirnya kompetisi di Indonesia.

Lihat juga Jepang, negara yang ”memohon-mohon” belajar dari kompetisi Galatama kita. Justru sekarang mereka berhasil menjadi juara piala Asia yang baru saja diselenggrakan di Qatar dengan mayoritas pemain dibawah usia 25 tahun yang tertangkap oleh pembinaan yang dilakukan di sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, hanya Yoshihito Endo saja yang berumur kepala 3.

Apakah kita tidak punya dana cukup sehingga sepakbola kita cenderung berjalan mundur ? TIDAK ! Lihat berapa miliyar yang telah dikucurkan oleh pemerintah melalui APBD yang sesungguhnya uang tersebut bisa dibuat untuk pembangunan mes sepakbola atau lapangan untuk melakukan pembinaan. Sebagai data jika rata-rata setiap klub mendapatkan 15 miliar maka jumlah yang didapat dari 18 klub yang berkompetisi di ISL (sebelum masukya LPI) adalah 270 M ! Lalu apa yang didapat sepakbola negara ini ? Nihil.

Proses naturalisasi memang cukup menambah animo masyarakat untuk lebih melek terhadap sepakbola dalam negeri, namun langkah itu tidaklah langkah yang tepat yang diagung-agungkan oleh PSSI sebagai keberhasilan untuk meningkatkan kualitas sepakbola negeri ini. Memang naturalisasi berjalan baik di Jerman, yang disebut-sebut sebagai negara yang paling berhasil menaturalisasikan pemainnya. Namun Jerman tidaklah asal menaturalisasi, mereka justru membina pemain macam Mesut Ozil, Sami Khedeira mulai dari usia belasan tahun. Hasilnya Jerman berhasil menjadi juara piala eropa U-17 dan U-19, kata naturalisasipun layak kita hapus dan mengganti dengan kata pembinaan.

Jika kita mundur ke eranya ”Sang Penyambung Lidah”, sepakbola Indonesia berada dalam masa jayanya. Saingan kita hanya Israel yang dulu masih masuk asia, Burma, dan Iran. Jangan sebut Malaysia, Singapura, Thailand, negara-negara arab (yang baru bangkit di era 70-an karena ladang minyak), Jepang dan Korea pun pernah kita permak 4-0, Taiwan 11-1, dan masih banyak lagi skor-skor fantastis.

Pembinaanpun berjalan dengan baik, terlihat dari prestasi tim junior yang terus berlanjut ke prestasi tim seniornya. Pada turnamen piala Asia junior tahun 1960, 1961, dan 1962 Indonesia berhasil menjadi juara 3, 1, dan 1. Padahal di tahun 1959 di turnamen yang sama Indonesia tidak menduduki peringkat 9 besar, sungguh luar biasa bukan ? Bahkan di kejuaraan pada tahun 1961 Indonesia mengalahkan Jepang 2-1 dan menahan imbang Korea Selatan dengan skor 2-2. Jika tidak ada insiden pembebasan Irian barat dan konfrontasi dengan Malaysia (1963-1966) Indonesia bisa terus menjadi jawara. Dan kekutsertaannya lagi kita berhasil menjadi juara 2 di tahun 1967 di kejuaraan yang sama pula.

Saat itu pelatihan diadakan di lapangan Kebayoran jalan Sisingamangaraja, Jakarta Selatan entah masih ada atau tidak lapangan itu sekarang dan pelatihan itu dipimpin oleh pelatih timnas senior, Tony Pogacknik. Sedangkan pelatih kepalanya adalah Djamiat Dhalhar.

Berlanjut ke timnas senior dengan berhasil beberapa kejuaraan diantaranya Asian games tahun 1962 Indonesia berhasil menjadi juara 2, kejuaraan merdeka games dan Agha Khan Golds Cup Indonesia menjadi langganan juara.

Padahal pada tahun-tahun tersebut hadiah yang diterima oleh para pemain tidaklah banyak, hanya diming-imingi akan diterima oleh Presidan Soekarno jika berhasil menjadi juara, beda dengan sekarang yang sebelum bertanding sudah dijamu oleh Aburizal Bakrie. Hehehe

Masih banyak lagi cerita-cerita manis sepakbola kita pada jaman dahulu, namun sekarang kembalik lagi ke pertanyaan, mengapa sekarang tidak ??

Sejak dilengserkannya Ali Sadikin dari ketum PSSI oleh cendana, prestasi kian hancur. Pengaturan skor, perjudian jadi awal mulanya. Bahkan ada poros mafia semarang-jakarta-kuala lumpur-hongkong-makau.

Mulai dari kejadian tersebut sepakbola di Indonesia cenderung jalan ditempat atau bahkan mundur yang menjamur hingga sekarang. Mungkin hanya Indonesia saja yang organisasi sepakbola tertingginya dipimpin oleh mantan koruptor, Nurdin Halid. Ah, tapi bukan itu saja yag membuat prestasi Indonesia carut marut. Proses kaderisasi pemain nol besar. Kompetisi menjadi fenomena gunung es.

Bukan salah Nurdin Halid, meskipun korupsi sepenuhnya haram. Bukankah kita punya KPK yang bisa saja memeriksa dana PSSI dan menurut kabar sudah atau akan dilakukan.

Bukan salah kerusuhan suporter, jika dibandingkan dengan negara El Savador yang sampai perang atau Rusia yang berujung SARA, kerusuhan kita masih struktural.

Bukan masalah uang, lihat perputaran uang dari dana sponsor Djarum yang konon samapai 50 M, hak siar ANTV baik langsung ataupun tunda, dana dari FIFA, dana APBN, dana dari Dji Sam Soe, dari penggila bola, dll.
bukan salah wasit, jika perut sudah bicara, 50 juta pun menjadi angka yang fantastis.

bukan sekali lagi bukan.

Lalu apa ? Manajemen yang bobrok.

Wisnu saputra | santri sepakbola
Twitter : @wisnusaputra

Comments

TOLONG BANGSA INI, SEPAKBOLA

2000020110317

“Berlin, Berlin, wir fahren nach Berlin“. Kita berangkat menuju Berlin. Begitualh teriakkan para pendukung Jerman saat ingin bertanding melawam Ekuador di piala dunia 2006.

Walaupun pertandingan tersebut sudah tidak menentukan lolos tidaknya Jerman ke babak knock-out namun publik Jerman masih antusias dengan berbondong-bondong datang ke stadion Berlin, yang juga jadi markas Hertha Berlin, Olimpia Berlin.

Ada cerita di suatu laboratorium komputer di Jerman sekelompok mahasiswa sedang sibuk bersykpe ria dan sharing email, mereka bukan sedang berbincang tentang sesuatu yang berkaitan dengan mata kuliah mereka, namum mereka sedang meminta kepada professor untuk membatalkan kuliahnya untuk mendukung karena Timnas mereka akan tanding melawan Ekuador.

Di jalan warga Jerman meneriakkan Berlin, Berlin, wir fahren nach Berlin ketika mereka bersapaan dengan warga lain walaupun tidak kenal. Kata-kata tersebut terlontar dengan antusias dan penuh semangat seperti ketika kita yang sedang merayakan kemerdekaan jaman dulu dan berteriak MERDEKA ! kepada siapapun yang diketemuinya.

Memang sepakbola menjadi alat nasionalisme yang paling pas di Jerman, wajar saja mereka sempat kalah di perang pertama dan kedua (masa Hitler). Kalau Indonesia banga dengan tumpah darah para pahlawannya, masyarakat Jerman jarang mengagung-agungkan kejayaannya di masa perang. Bagi mereka jika mereka meagung-agungkan sejarah berarti mereka menyetujui perilaku Nazi di masa lalu.

Hal yang membuat masyarakat Jerman berang adalah cemoohan dari warga Inggris, The British have zero interest in the new Germany. The British have zero interest in the old Germany. The British are interested ONLY in Nazi Germany !!. Sampai-sampai anak kecil di Inggris meneriakkan nazi ! nazi ! kepada temannya yang mereka tau ada darah Jerman.

Ada cerita lain, saya pernah membaca di situs multiply.com dimana ada seorang warga Indonesia yang bersuamikan warga Negara Jerman, sang suami tidak suka melihat bendera Jerman berkibar. Beda banget sama kita yang dengan bangga mengadakan upacara di setiap hari Senin.

Penghapusan ”rasa malu” warga Jerman waktu itu dimulai dari 0 sesudah perang dunia II. Usaha itu membuahkan hasil dimana di tahun 1954 di masa Wirtschaftswunder (Keajaiban Ekonomi, artinya dalam waktu singkat Jerman berhasil bangkit kembali). Selain itu pada tahun 1954 juga terjadi Wunder von Bern (Keajaiban dari Bern) dimana pada tahun tersebut Jerman menjadi juara dunia sepakbola yang pertama kalinya.

Momentum juara dunia tersebut membawa Jerman menjadi negara yang disegani di eropa bahkan dunia, sekarang mana ada sih orang yang ga bangga ketika mereka mengenakan sesuatau yang berlabel ”Made In Germany” ?

Jerman bangsa yang terpuruk menjadi bangsa yang bangkit dari keterpurukan dan tentunya tidak jalan ditempat saja, mereka dengan teguh menjalankan di semua sektor karena olah raga yang direbutin sama 22 orang, SEPAKBOLA.

Mereka dengan bangga menyanyikan lagu Einigkeit und Recht und Freiheit für das deutsche Vaterland! (salah satu lirik di Das Lied Der Deutchsen)…Persatuan, hukum dan kebebasan untuk tanah air Jerman. Dengan kemenangan Jerman di PD 1954, menjadi satu-satunya sejarah yang bisa dibanggakan oleh publik Jerman.

Semoga Indonesia juga bisa memanfaatkan momentum ini dengan menjadi juara di piala AFF. Meskipun di leg-1 kita kalah telak 0-3 ! oleh Malaysia yang kita hantam pada penyisihan grup dengan 5-1.

Bambang Pamungkas (pemain favorit saya) berkata :

Football is an unpredictable thing.. Some results will make you shock, but that’s the thing that makes it passionate, the mystery in it.

Bukankah masih ada 90 menit lagi di Jakarta kawan-kawan.. Tetap Semangat…!!! #Indonesiamasihbisa

Karena dengan berhenti berusaha, maka kita tidak lebih baik dari seorang pengecut.

Ya, dengan Indonesia menjadi juara (semoga), mudah-mudahan berdampak baik untuk Tanah Air ini.

Wisnu Saputra | Santri Sepakbola
Twitter : @wisnusaputra

Comments (1)

SEMOGA…

timnas-indonesia-piala-aff
Piala AFF VIII yang digelar di Jakata banyak menibulkan fenomena di Indonesia, semua umur ngikutin perkembangannya, mulai dari SBY sampe rakyat jelata yang rela jual ayam demi beli tiket pertandingan. Siapa sih yang ga tau Irfan Bachdim sekarang2 ini ? Sampe2 sampul majalah remaja pake pemain darah Indonesia-Belanda itu. Gelora Bung Karno selalu penuh sesak ketika tim garuda maen.

Indonesia sendiri belum pernah jadi juara di kejuaraan antar asia tenggara ini. Hasil terbaiknya Cuma masuk final 3 kali. 2 kalah sama Thailand, 1 kalah sama Singapura. Tentu pagelaran kali ini masyarakat banyak berharap akan Garuda keluar sebagai pemenang.

Ga tanggung2, setiap kali panitia buka loket penjualan tiket, pasti habis terjual. Waktu pertandingan pertama loket di hall basket dimana anak2 The Jak sering ngumpul masih jual tiket, begitu pun pas lawan Laos. Tapi pas lawan Thailand tiket box di hall basket udah abis dari jam 6 sore. Gw mikir ah mungkin karena hari itu hari minggu jadi banyak orang yang sempet buat nonton atau karena lawannya Thailand yang betapa susahnya kita menang lawan tim besutan Bryan Robson tersebut.

Euforia kemenangan Indonesia sontak meninggi, infotainment yang ga pernah bahas2 bola langsung latahan bahas bola, tentunya sosok Irfan Bachdim yang berwajah rupawan bagi kau hawa dan sosok kiper Markus Haris Maulana yang baru saja melangsungkan pernikahan dengan selebritis Kiki Amalia menambah lezat berita untuk disantap.

Tapi ada satu fenomena yang menurut gw ini suatu kemajuan atau sekedar pelangi aja yang bagusnya cuma sebentar aja. Orang2 yang punya stigma negatif sama The Jak yang selalu bikin macet sekitar senayan ketika bubaran pertandingan maen tiba2 menjadi haus akan tiket dan menjadi pelaku kemacetan tersebut. Rekan2 gw juga hampir semua yang olok2 The Jak langsung rela ngantri layaknya ngantri sembako di kelurahan. Bayangin aja pemandangan cewe berhotpants, tenktop, dan aroma wangi udah bukan hal yang luar biasa kita dapetin di GBK sekarang ini. Hampir tiap hari gw dapet messenger ”ada tiket ga ?” dari orang yang acuh tak acuh sama sepakbola kita.

Kemana mereka sewaktu Indonesia tampil di kualifikasi piala asia ? Kemana mereka ketika timnas U-23 main ? Ada infotainmen yang liput ? ada wawancara di berita2 tiap pagi ? Yang ada malah sindiran dan kata2 klasik “kalah lagi-kalah lagi”. Memang peran media selaku alat yang paling baik buat memotori isu2 yang ada sangat tinggi. Yah kalo media bilang hebat ya masyarakat awam juga bilang hebat, kalo media bilang jelek ya jelek.

Tapi dari sisi positifnya sekarang kita udah punya momentum, masyarakat udah banyak yang tau gimana sepakbola kita walaupun masih ada teriakkan Boaz kepada Okto Maniani. Semoga walaupun Indonesia tidak dalam kondisi aura seperti sekarang tetap mendukung, Semoga kita seperti suporter West Ham United yang meski ada di dasar kelasemen liga Inggris, mereka tetap datang.

Dan semoga TimNas bisa memanfaatkan momentum ini, tidak lain adalah menjadi Juara. Semoga…..

Wisnu Saputra | Santri Sepakbola
Twitter @wisnusaputra

Comments

cintailah apa yang kamu cintai

gw pernah chating sama bung ferry (asisten manager persija) dan gw nanya pertanyaan konyol : “bung ferry, kira2 saya bisa kerja di persija ga ya ?? saya lulusan binus fakultas ekonomi jurusan manajemen.”

hari jumat bokap bilang sama gw “ikut bapak ke jogja yuk ? kamu kan anak laki, kamu harus ngerti cara bikin perjanjian kontrak rumah, dari pada kamu masih nganggur, tidur pagi, bangun sore…”

gw yang denger ajakan bokap yang agak nyindir gw karena belom dapet kerjaan langsung cari alesan buat ga ikut karena persija bakalan maen lawan persebaya hari2 selanjutnya dan gw mau nonton banget. kalo gw ikut, pasti gw ga bisa nonton persija di stadion. apalagi persebaya musuh bebuyutan persija.

gw inget salah satu temen gw pernah nawarin kerjaan, tapi pokoknya gw ga naro harapan apapun ke kerjaan itu, ga kaya pas gw ikut tes seleksi di kerjaan yang sebelom2nya.nothing to loose.

yaudah gw jawab kalo gw ga bisa ikut karena besoknya ada wawancara kerja. bokap gw yang masih ngarep gw kerja ya “iya-in” aja alesan gw. Yeeees !! gw bisa nonton persija….

tesnya pagi, sedangkan persija maen sorenya..oke gw pagi2 brangkat, seperti biasa muka kucel gara2 begadang…psikotes gw pasrah, ga bisa mikir. gw ketolong mungkin gara2 gw sering ikut psikotes di tempat2 sebelomnya, soalnya sama2 aja. Presentasi, yahhhh apa adanya aja deh. gw liat sebelom2 gw presentasinya yahud2 banget, padahal cuma dikasih waktu 2 menit tapi ada yang sampe 15 menit. dalem ati gw pasti ni orang bakalan diterima. nah pas giliran gw nih, yaudah gw 2 menit aja. gw banyak ngoceh. gw ngomong apa yang disuruh ngomong dan gw jawab apa yang ditanya. nah pas pengumuman siapa2 aja yang bakalan diterima gw 100000% yakin kalo gw ga termasuk. bayangin, kira2 12 orang yang ada disitu cantik2, keren2, gw doang yang memble. cuma dipilih 5, cesssss gw udah masukin pulpen ke dalem tas gw dan gw udah mikirin pertandingan nanti sorenya….

“dan yang terakhir lolos..wisnu saputra” lah lah lah lah ?? dan gw lolos ketahap wawancara sama director Human capital home center indonesia besoknya.

ah gw anggep itu hoki aja, berkat doa nyokap gw yang gw liat akhir2 itu sering bangun malem sola tahajud sedangan gw cuma maen game.

sorenya gw berangkatlah ke senayan, cuma satu kata “rame” di senayan.karena tiketnya yang dijual di loket biasa gw beli udah abis, akhirnya gw nyari di loket yang lain. pas mau ngantri gw sadar bahwa HP gw liau deembat maling..ya ampuuunn gw pikir ini pertanda buruk bahwa gw salah udah ngeboongin bokap gara2 ga ikut ke jogja dengan alesan ada tes. akhirnya gw ga ngantri dan gw diem sejenak apa gw harus balik atau gw terus nyari tiket karena udah tanggung sampe senayan. dan gw pun minta pendapat temen gw yang ikut waktu itu tapi dia jawab cuma “ya terserah lo…” jawaban yang sangat membantu T__T. oke nyari !! kondisi pertandingan udah dimulia karena riuh the jak kedengeran sampe luar.calo pun dateng dengan enaknya ngomong “mending lo beli sama gw aja, beda 5 ribu, dari pada hp lo ilang, td aja udah 5 orang hpnya ilang…” absurd. yaudah gw beli. gw buru2 masuk…pas gw liat papan skor udah 2 0 buat persebaya !!! WTF !! tambah lagi dah pikiran paranoida gw kalo gw ga bakal direima kerja.

gw tetep nyanyi dukung persija. skor 1-2. 2-2. 3-2 yessssss !!!! gw seneng seenggaknya itu obat kekecewaan dari hp gw yang ilang. persjia kebobolan lagi skor seri 3-3 waktu udah menit ke 90 assisten wasit juga udah ngasi tau perpanjangan waktu. persija dapet tendangan bebas dan pastinya itu peluang terakhir supaya menang dan menjadi kado ulang tahun THE JAK MANIA. yang ngambil tendangan itu bepe, kena tiang aaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrrrhggggggg tapi aliyudin bisa manfaatin bola itu dengan sundulunnya…GOKILLL Persija menang meeeen !!!! pikiran gw yang parno bakalan ga diterima tiba2 aja berubah kalo itu pertanda baik.

hari berganti, gw pun pagi2 harus ketempat yang kemaren gw psikotes buat diinterview. dan gw pun diterima jadi pegawai di perusahaan tersebut.

terbesit dipikiran gw : coba kalo gw ga nonton persija, gw masih sering disindir secara pedas sama bokap gw gara2 belom dapet kerjaan. :-).

Allahuakbar !!

GOD GIVE THE BEST FOR ME, NOT GIVE WHAT I WANT. Mungkin Dia punya jalan buat gw dapet kerjaan, yaitu lewat sesuatu yang gw cintai (persija). dan gw tambah yakin kalo kita cinta terhadap sesuatu pasti yang kita dicintai juga akan ngasih cinta ke kita notwithstanding itu inanimate objects.

sekarang gw alhamdulilah jadi supervisior di perusahaan di mana gw kerja.

Tanpa mengesampingkan Tuhan, gw beranggapan : karena PERSIJA, gw dapet kerjaan.

Comments

Halo dunia!

Selamat Datang Blogdetik.com. Ini merupakan postingan pertama Anda. Silahkan Edit atau hapus postingan ini, dan mulai ngeblog!

Comments (1)